Nanis merupakan anak bungsu dari pasangan keluarga miskin. Empat
orang kakanya hanya mampu menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD),
bahkan ibunya tak paham soal sekolah. Kalo bicara soal pendidikan di
keluarganya, yang paling tinggi adalah kakaknya yang nomor dua. Dia
sempat merasakan duduk di bangku SMP walau hanya satu semester, dan
kemudian didepak lantaran tidak bisa membayar biaya sekolah.
Sebagai orang desa yang serba susah, mimpi Nanis tidak muluk-muluk.
Dia hanya ingin bersekolah. Tidak peduli sekolah apapun namanya. Waktu
duduk di bangku sekolah SD, Nanis bersekolah di sekolah yang hanya
bersetatus terdaftar. Soal prestasi sekolahnya, jangan ditanya. Karena
jika ditanya, itu hanya akan menjadi pertanyaan yang tidak pernah
terjawab sepanjang masa, dan akan menjadi rahasia yang tak terpecahkan,
bahkan dengan mengerahkan intelejen sekelas FBI sekalipun.
Gedung sekolah Nanis ketika itu lebih pantas dijadikan kadang
kelinci, daripada kandang ayam. Tapi Nanis tidak peduli. Buat Nanis,
yang penting adalah status bersekolahnya, dan belajar dengan giat. Soal
sarana dan prasarana, itu urusan lain. Menurut Nanis, toh pada akhirnya
yang dilihat hanya ijazah, dan kemampuannya saja, tidak sampai gedung,
pengajar, bocor atau tidak bocor sekolahnya. Walau orang miskin, Nanis
memang terkenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hingga pada
akhirnya, dengan menjunjung tinggi keyakinannya itu, Nanis dapat
menyelesaikan pendidikannya hingga lulus SMA.
Seperti kebanyakan siswa lainnya, Nanis pun ‘galau’ ketika harus
memilih bekerja atau kuliah. Jika kuliah, kuliah jurusan apa, di mana,
bagaimana memulainya, dan segudang pertanyaan lainnya. Pertanyaan
tambahan bagi Nanis adalah, biayanya dari mana, bagaimana cara
daftaranya, dijemput atau tidak, dan beberapa pertanyaan polos yang
sulit dicerna oleh kebanyakan orang. Karena bagi kebanyakan orang,
pertanyaan-pertanyaan Nanis bukanlah pertanyaan yang wajib dijawab.
Bahkan, jika diumpamakan sebuah ujian, pertanyaan Nanis itu masuk
kategori pertanyaan “Bonus”. Yang kalaupun salah menjawabnya, tetap
dianggap benar oleh pembuat pertanyaan.
Hingga suatu ketika, Nanis memberanikan diri menyampaikan kebingungan kepada Ibunya yang dianggap dapat memberikan solusi.
“…Bu, Aku bingung, aku sudah lulus SMA” keluh Nanis kepada ibunya.
“Terus, apa masalahmu?” Jawab ibunya.
“Aku bingung harus kuliah atau bekerja” lanjut Nanis ragu.
“Kita ini orang miskin, bekerja lebih baik buatmu. Tidak ada kata
kuliah, bisa lulus SMA saja, kau sudah banyak bikin ibu susah.!!” sahut
ibunya sinis.
Nanis diam tanpa kata, karena menjawab pernyataan ibu, hanya akan
mempersulit perjuangannya. Nanis tidak menduga, ternyata mengeluh kepada
ibunya jadi masalah baru. Sekarang tantangan Nanis bertambah, selain
kebingungannya memilih kerja atau kuliah, Nanis harus meyakinkan ibunya
agar memberi restu untuk melanjutkan kuliah.
Nanis tidak berani bercerita kepada Bapaknya tetang masalah yang
sedang dialami, hal ini dilakukan oleh dia bukan tanpa alasan. Mungkin
karena sejak awal Nanis lahir, bapaknya memang sudah tidak berniat untuk
menyekolahkannya. Bagi bapaknya, menjadi kuli bangunan dari kampung ke
kampung sudah cukup terhormat. Itulah kalimat semboyan bapak Nanis sejak
ibunya mengandung Nanis dan empat orang saudaranya.
Bapak Nanis sseorang kuli bangunan. Saat ini, sedang merantau
menyelesaikan sebuah proyek gedung di kota bersama teman satu desanya.
Biasanya, bapak Nanis balik saat proyek selesai atau saat diberi
kesempatan libur oleh Mandor.
Malam hari setelah Nanis pulang dari mushalla usai menjalankan shalat
Isya, dia mencoba menemui kakaknya yang nomor tiga, namanya Intan.
Intan adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Nanis. Selain
memiliki sifat keibuan, Intan kadang bijak dalam memberi nasehat dan
arahan.
“Teh -teteh, sebutan kakak perempuan bagi orang sunda-, aku bingung” keluh Nanis pada Intan.
“Bingung kenapa kamu Nis?” sahut Intan.
“Teteh tahukan, aku baru saja dinyatakan lulus oleh sekolah” lanjut Nanis.
“Lalu, masalahmu apa? Tanya tetehnya kembali.
“Aku ingin kuliah, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku tak tahu
harus memulai dari mana. Kita tak punya uang, uang pendaftaran, uang
macam-macam, semua kita tidak punya. Parahnya lagi, Ibu malah menyuruhku
untuk memilih bekerja. Aku tak tau harus bekerja apa” jawab Nanis
panjang menjulang.
“Nis, jika teteh harus menjawab jujur, mungkin mengeluh pada teteh
juga akan menambah masalah buatmu”. Sahut Intan dengan nada lemah.
“Teteh tahu apa tentang sekolah” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi, rasanya, sebagai orang yang lebih tua, teteh tidak pantas
membantah keinginanmu yang mulia itu” lanjut Intan menenangkan. “Lalu.?”
Tanya nanis penasaran. “Teteh mendukungmu Nis, nanti teteh bantu kamu
meyakinkan ibu” tegas intan meyakinkan.
Nanis girang bukan kepalang, “terima kasih Teh” sahut Nanis dengan
wajah gembira. Nanis beranjak ke kamar, Nanis tidur pulas malam ini.
Soal urusan lobi melobi ibu, Intan memang jagonya. Mungkin karena
mereka sama-sama perempuan, sehingga tahu dari mana dia harus memulai
sebuah pembicaraan dan meyakinkan.
Keesokan harinya, Intan menyiapkan amunisi, siap berperang, siap
menyerang. Menunggu hari senja, Intan bergegas, bertanya kepada
teman-temannya, mengapa kita harus sekolah, bagaimana orang bisa sukses,
dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah disiapkan. Semua jawaban
direkam olehnya, dan akan dijadikan bahan obrolan saat meyakinkan ibunya
nanti malam. Hari kembali senja, perjuangan Intan dimulai.
Setelah shalat magrib, Intan mulai mendekati Ibunya. Muka ibu nampak
sedang tidak sedap, Intan urung. Bada Isya, muka ibu mulai cerah. Entah
pembersih apa yang dipakai ibu Intan. Intan mendekat, sedikit pura-pura
santai, lalu intan menyapa.
“…Bu, aku lihat TV di rumah teman, banyak orang-orang sukses yang muncul disana” Intan memulai pembicaraan dengan ibunya.
“Kenapa? Kamu ingin ibu belikan TV untuk kalian? Uang dari mana?” Sahut ibu menebak maksud Intan.
“Bukan Bu” bantah Intan. “Dari tayangan itu, mereka berjuang menjadi sukses dan mereka sekolah” jelas Intan dengan ragu.
“Pasti mereka berasal dari orang kaya” timpal ibu.
“…Betul bu” sahut Intan. “Tapi, yang paling penting, walau mereka
kaya, mereka bersekolah sampai tinggi. Sampai sarjana, malah di atasnya”
Intan mulai mengarah kepada pokok pembicaraan.
“Ya, karena mereka kaya” bantah ibunya.
“kalau mereka saja yang sudah kaya mau sekolah, mengapa kita orang
susah gak mau sekolah bu, setidaknya, supaya kita lebih terhormat,
sejajar dengan kebiasaan orang kaya, yaitu sekolah” Intan mulai panas.
“Bagaimana kita bisa sekolah, kalo kita gak punya uang buat bayarnya.
Sekolah itu hanya miliki mereka yang ber-uang. Orang susah kayak kita
mana bisa” Ibu terbakar.
“Sekolah itu sebab bu, bukan akibat. Orang sekolah, berilmu, sukses,
lalu jadi orang kaya. Bukan sebalikna. Setelah kaya, mereka
menyekolahkan anak dan keturunannya. Bukankah ibu dulu yang pernah
bilang kepada Intan waktu kecil soal itu.!?” Intan mulai ngarang. Ibu
mulai diam dan berpikir sejenak, bingung, karena ibu merasa tidak pernah
mengatakan hal itu sebelumnya. Tapi tetap meng-amini, lalu menyahut.
“…Tan, orangtua selalu berbicara idealis kepada anak-anaknya,
walaupun sesuatu yang tidak mungkin sekalipun dicapainya. Itu kewajiban
orangtua. Kenyataanya, tidak semudah yang ada pada ucapan mereka. Paham
kau Tan..!? bentak ibunya.
“…Sudahlah, usiamu sudah cukup tua untuk sekolah, tidak pantas anak SMP seusia kamu” kata ibu mulai menutup pembicaraan.
“…bukan aku bu, tapi Nanis” Intan memelas.
Pembicaraan mereka berlanjut dengan tensi yang lebih rendah. Intan
mulai menjalan strategi memelas kepada Ibunya, si Ibu mulai merendah.
Bertahan di tengah gempuran sang anak. Berkali-kali Intan melakukan
serangan, tapi tetap dimentahkan. Pembicaraan terus berlangsung, hingga
mereka tertidur.
Pagi buta Intan terbangun lebih dahulu dari ibunya. Intan bergegas,
menjalankan shalat subuh, membersihkan dapur, dan menyiapkan makanan
seadanya. Tak lama kemudian ibu terbangun. Intan berharap ibu lupa
dengan perdebatan tadi malam. Walau ingat, Intan berharap ibu menyetujui
niat Nanis untuk melanjutkan kuliah.
Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 pagi, tidak ada pembicaraan yang
berarti hari ini. Ibu malu menyapa, Intan enggan memulai. Sementara
Nanis, menjalankan aktifitas rutinnya, menyemai harapan.
Ibu mendekat pada Intan, dengan gerakan sedikit canggung, ibu menyapa.
“…Tan, kemana Nanis?” Tanya ibu penuh basa-basi
“Mungkin sedang keluar bersama teman-temannya bu” jawab Intan dengan nada kikuk.
“Jika Dia pulang nanti, bilang padanya…”
“Bilang apa bu?” potong Intan penasaran.
Ibu termenung dan terdiam sejenak. Sementara Intan menanti jawaban ibu dengan mata berbinar-binar.
“Bapak minta Nanis menyusul ke kota, kontraktor tempat bapak bekerja
membutuhkan kuli untuk percepatan proyeknya. Tadi malam bapak menelepon
lewat tetangga” jawab ibu dengan muka penuh bersalah.
Intan terdiam, pikirannya melayang. Sang Negosiator handal ternyata
harus bersimpuh mengakui kekalahan yang tragis, kalah karena alasan
kemiskinan. Negosiasi tadi malam berakhir, dan pemenang sudah diumumkan.
Hasilnya adalah Nanis menjadi Kuli.
Nanis belum tahu soal ini, karena hari ini Nanis sedang menemui guru-gurunya yang dianggap bisa membantu meraih mimpinya itu.
Tapi palu sudah diketuk, sekuat apapun, hasil apapun yang nanis
dapat, menjadi kuli adalah jawabannya. Karena suara bapak adalah suara
tuhan. Tidak ada yang bisa membantah keputusan tersebut. Ini adalah
pukulan hebat bagi Intan. Sementara Nanis masih tersenyum dikejauhan
entah dimana. Dia belum tahu, bahwa kuli adalah profesi dia selanjutnya.
(Ceritanya bersambung)
Cerpen Karangan: Tito Mendes
Minggu, 03 Mei 2015
"Artikel" Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan adalah salah
satu mata pelajaran yang tersedia di semua jenjang Pendidikan. Mulai
dari SD sampai SMA dapat kita temukan mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan. Bahkan sampai tingkat Bangku Kuliah pun juga
menyediakan Mata kuliah Kewarganegaraan. Namun di beberapa universitas
mengganti mata kuliah kewarganegaraan menjadi Pendidikan Pancasila. Akan
tetapi, pada intinya kedua materi ini tetap saja membahas masalah
kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan norma-norma serta
kaidah-kaidah yang terkandung dalam pancasila.
Meskipun Pendidikan Kewarganegaraan
dianggap materi yang penting untuk dipelajari, tetapi materi ini belum
menjadi materi yang diprioritaskan dalam pendidikan, hal ini karena
dibeberapa universitas hanya memberikan alokasi waktu yang masih minim
setiap minggunya. Kebanyakan tingkat sekolah atau Universitas hanya
memberikan waktu antara satu sampai dua jam pelajaran setiap minggunya
untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Sehingga hal ini sangat tidak efektif
untuk memberikan pengetahuan kewarganegaraan secara optimal kepada
peserta didik. Di samping itu, tingkat pemahaman peserta didik pun patut
dipertanyakan dengan hanya mengikuti pendidikan yang sangat singkat
tersebut.
Di balik minimnya alokasi waktu yang
diberikan, materi pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang sangat
penting. Beberapa hal yang menjadi dasar pentingnya pendidikan
kewarganegaraan di antaranya adalah :
Materi pendidikan kewarganegaraan
mengajarkan siswa untuk mengenal aturan dasar kewarganegaraan. Hal ini
khususnya terkait hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu media untuk mengajarkan kehidupan politik kepada siswa. Siswa dikenalkan sistem politik tanpa harus terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu media untuk mengajarkan kehidupan politik kepada siswa. Siswa dikenalkan sistem politik tanpa harus terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis.
Mendidik siswa untuk lebih memiliki toleransi dan tenggang rasa terhadap sesama manusia yang berada dalam satu negara yang sama.
PendidikanKewarganegaraan memberikan
pengetahuan pada siswa tentang peraturan Negara yang mengikat agar para
siswa bisa hidup dalam aturan hukum yang berlaku.
Pendidikan kewarganegaraan merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air pada siswa. Dengan demikian, diharapkan rasa nasionalisme dapat ditumbuhkan melalui pelajaran ini.
Pendidikan kewarganegaraan merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air pada siswa. Dengan demikian, diharapkan rasa nasionalisme dapat ditumbuhkan melalui pelajaran ini.
Pada Intinya, Pendidikan Kewarganegaraan
diharapkan dapat menciptakan insan yang bermental cerdas dan bertanggung
jawab disertai perilaku yang:
- Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghayati nilai-nilai falsafah pancasila.
- Berbudi pekerti luhur dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
- Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran BelaNegara
Lemhannas. Pendidikan Kewarganegaraan. 2005. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
Puisi "IBU PERTIWI"
IBU PERTIWI
Ibu Pertiwi…
Jika angin tak lagi berhembus
Jika api tak lagi membara
Jika ar tak lagi mengalir
Jika tanah tak lagi membongkah
Apa kita masih dapat berkata?
Tentang hasrat dan milik
Tentang jiwa dan rasa
Tentang dunia yang dipijak nestapa
Tentang duka menyelimuti langkah
Ibu Petiwi…
Masih adakah celah?
Untuk menyimpan gelisah
Untuk menyembunyikan langkah
Tidak, Bu!
Meskipun celah berongga
Dada kita tetap menganga
Meskipun jari tersembunyi
Mata dan telinga tetap ada
Ingatlah…
Wahai Ibu Pertiwi
Kami..,
Putra putri bangsa akan melangkah
Dalam langkah satu dan satu
Bukan melompat
Setelah itu kami terjerat!
Pendidikan Kewarganegaraan Softskill "Puisi"
BANGKIT INDONESIA
Jalani hidup penuh juang
Tatap masa depan cerah penuh harapan
Jangan barkan kesalahan buat keputusasaan
Belajar dari pengalaman bangsa
Jangan terusik oleh kesukaran
Hadapilah sebagai tantangan
Berdayakan drimu oleh keberanian
Pelajarilah hal baru dalam hidup
Buat bumi Indonesia bersinar
Indonesia milik kita
Indonesia bukanlah milik mereka
Pemuda bangsa anti anarkisme
Maju bersatu dalam kebersamaan
Kekuatan dalam satu hati
Memandu puncak kejayaan
Bangkitlah Indonesia!!!!
Pendidikan Kewarganegaran Softskill "Puisi"
Sajak Pohon Sila
Saat Ia jatuh dalam perut lambungku
Aku terbelenggu ketika bulan terlihat indah
Padahal terlalu banyak lubang didatarannya,
Aku terisak perih, pilu, rapuh
Aku tertusuk rindu elang pancasilaku
Elang yang telah buta dan hilang
lalu tak singgap lagi di rantingku
Hari ini aku sangat terpukul
Negaraku dipenuhi kata-kata yang tak lagi jujur
Kepemimpinan yang banyak dipenuhi tanda tanya besar
Entah dengan cara apa lagi untuk mengembalikan semuanya
Rakyat-rakyat kecil yang terus dipenuhi dengan harapan-harapan
Hidup Layak,
Omong kosong,
Itulah yang mereka acap kali rasakan.
(Nurfahmi).
"PERADILAN RAKYAT" Cerpen Karya Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang
pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Jumat, 23 Januari 2015
Ekonomi Koperasi Menuju MEA 2015
PENGERTIAN MEA/AEC (MASYARAKAT EKONOMI ASEAN/ASEAN ECONOMIC COMMUNITY)
MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara Negara-negara asean. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC).
Pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997 Para Pemimpin ASEAN memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi.
Pada KTT Bali pada bulan Oktober 2003,
para pemimpin ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan
menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2020, ASEAN Security
Community dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN dua pilar yang tidak terpisahkan
dari Komunitas ASEAN. Semua pihak diharapkan untuk bekerja secara yang kuat
dalam membangun komunitas ASEAN pada tahun 2020 mendatang.
Selanjutnya, Pertemuan Menteri Ekonomi
ASEAN yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia,
sepakat untuk memajukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan target yang jelas
dan jadwal untuk pelaksanaan. Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007,
para Pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat
pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020
dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan
Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin
sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun
2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang,
jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan VietNam melalui Initiative for ASEAN Integration dan inisiatif regional lainnya.
Bentuk Kerjasamanya adalah :
- Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas;
- Pengakuan kualifikasi profesional;
- Konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan;
- Langkah-langkah pembiayaan perdagangan;
- Meningkatkan infrastruktur
- Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN;
- Mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah;
- Meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Pentingnya perdagangan eksternal
terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk
tetap melihat ke depan, karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA):
- Pasar dan basis produksi tunggal,
- Kawasan ekonomi yang kompetitif,
- Wilayah pembangunan ekonomi yang merata
- Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global.
Karakteristik ini saling berkaitan
kuat. Dengan Memasukkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing karakteristik
dan harus memastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsur-unsur serta
pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di antara para pemangku
kepentingan yang relevan.
ELEMEN-ELEMEN UTAMA DALAM MEA 2015
Terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.
Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Kedua,
MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi,
yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy,
consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation,
dan E-Commerce. Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan
yang adil; terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agen-agen
perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan
jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan
sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan dengan
media elektronik berbasis online.
Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang
memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha
Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan
dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar,
pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan,
serta teknologi.Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.
DAMPAK MEA 2015 BAGI INDONESIA
Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas komoditas yang diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri.
Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia
memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri
sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih memiliki
banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah
diimplementasikan. Oleh karena itu, para risk professional diharapkan
dapat lebih peka terhadap fluktuasi yang akan terjadi agar dapat mengantisipasi
risiko-risiko yang muncul dengan tepat. Selain itu, kolaborasi yang apik antara
otoritas negara dan para pelaku usaha diperlukan, infrastrukur baik secara
fisik dan sosial(hukum dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu adanya
peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga kerja dan perusahaan di
Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri di
tahun 2015 mendatang.
Kesiapan Menjelang Pemberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean
Meski tercatat sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah ruah dengan luas dan populasi terbesar di antara negara-negara lainnya di Asean, Indonesia diperkirakan masih belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015. Pernyataan bernada skeptis atas kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Tenaga Kerja, Benny Soetrisno beberapa waktu lalu dalam Seminar Kesiapan Tenaga Kerja dalam Menghadapi Pasar Asean.
Pernyataan tersebut adalah sangat beralasan mengingat bahwa masih ada sejumlah masalah mendasar yang menimpa Indonesia dan harus segera diatasi sebelum berlakunya Mayarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015. Iklim investasi kurang kondusif yang diindikasikan melalui masalah ruwetnya birokrasi, infrastruktur, masalah kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan (perburuhan) serta korupsi merupakan sebagian dari masalah yang saat ini masih menyandera pemerintah Indonesia.
Kekhawatiran atas kesiapan semua negara anggota Asean untuk pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean juga terungkap melalui suvey yang dilakukan oleh Kamar Dagang Amerika di Singapura. Survey yang melibatkan 475 pengusaha senior Amerika tersebut mengungkapkan bahwa 52 persen responden tidak percaya Masyarakat Ekonomi Asean dapat diwujudkan pada tahun 2015.
PENINGKATAN DAYA SAING GERAKAN KOPERASI DALAM MENGHADAPI MEA 2015
Sebagai salah satu instrumen ekonomi yang dapat berperan dalam meningkatkan perekonomian Negara. Koperasi kini diharapkan mampu bersaing dengan berbagai instrumen perekonomian lainnya di dalam negeri sehingga dinyatakan siap dan mampu untuk maju bersaing dalam kancah perekonomian global.
Hal tersebut diperlukan karena mengingat
telah menjamurnya berbagai macam jenis Koperasi di Indonesia. Sebut saja koperasi
simpan pinjam yang kini banyak diminati karena banyak Koperasi yang menawarkan
kemudahan dalam pinjaman dan tanpa Agunan. Begitu pula dengan Koperasi serba
usaha, yang secara tidak langsung sudah memberi banyak manfaat. Pertama,
kehadiran Koperasi jenis ini sama saja hal nya dengan usaha individu lainnya
namun terkoordinir sehingga ada uang yang masuk yang jumlahnya dapat
diperkirakan dengan baik. Kedua, meningkatkan daya kreativitas dan kemampuan
masyarakat dalam berwirausaha sekaligus beorganisasi dengan lingkungan.
Dengan berasaskan kekeluargan dan adanya sistem SHU (Sisa Hasil Usaha)
menjadi ciri khas tersendiri bagi Koperasi dalam memperkuat kerangka
perekonomian Negara untuk bersaing dengan Negara ASEAN lainnya.Maka dari itu perlu dilakukan pembenahan baik dari segi institusi maupun perbisnisannya. Hal ini akan memperbaiki taraf Koperasi sehingga menjadi semakin maju dan bukan hanya sekedar bagian dari perekonomian saja. Luasnya area Indonesia dan banyaknya daerah-daerah potensial yang dapat dijadikan lokasi untuk didirikannya Koperasi menjadi sesuatu yang mungkin bagi Koperasi untuk menjadi instrumen perekonomian terkuat di MEA 2015.
Berikut hal-hal yang perlu dilakukan
oleh Institusi Koperasi, Bisnis Koperasi dan SDM nya:
Institusi Koperasi
- Memperkuat idiologisasi koperasi pada anggota
- Penguatan kelembagaan koperasi sebagai entitas bisnis modern
- Membangun kultur kreatif, inovatif dan nilai tambah dalam kerangka meningkatkan daya saing koperasi
- Menerapkan nilai-nilai & prinsip koperasi sejati
- Memberikan nilai tambah yang “luar biasa” pada anggota sehingga membangun “loyalitas, komitmen anggota” terhadap koperasi
- Memperkuat jaringan kemitraan koperasi dengan stake holder
Bisnis Koperasi
- Peningkatan modal sendiriberdasarkan skala ekonomi yg layak
- Pengembangan bisnis yang inovatif, kreatif dan mempunyai nilai tambah
- Penerapan manajemen modern pengelolaan koperasi
- Penerapan IT
- Kemitraan dengan pelaku bisnis lain
SDM
- Peningkatan kualitas SDM koperasi
- Pengembangan sistem kompensasi yang menarik bagi insan koperasi
- Profesionalisasi manajemen
- Pengukuran kinerja SDM yang unggul
Langganan:
Postingan (Atom)